Belum lama ini, beberapa saat yang lalu, mungkin seminggu atau beberapa minggu atau berbulan-bulan, bisa juga setahun atau bertahun-tahun yang lalu, entahlah, yang jelas belum lama ini, rasanya, sebuah ketentraman dan kedamaian melingkupi desa ini. Anak-anak kecil beriang-gembira bermain dengan khayalannya yang kekanakan. Atau burung-burung berkicau menghibur dirinya sendiri, atau domba-domba dan ternak-ternak yang saling mengisi kebahagian satu sama lain di bawah pohon-pohon rindang yang tumbuh asri dan indah. Semua hal begitu baik. Kupu-kupu berpasangan menari-nari diatas bunga-bunga berbagai warna dan rasa, saling asih, saling rawat.
Begitulah hari-hari sebelum bencana itu datang. Kini, ombak mendebur membesar melahap segala kebahagiaan dan kesenangan. Air-air sungai bergemuruh. Hari-hari indahpun berlalu.
Tepat setahun yang lalu, di bangku ini, petinggi negeri ini sepakat mengirimkan orang suruhannya, budaknya, mengurusi desa ini. Tapi apa mau dikata, pohon jelek tidak akan pernah menghasilkan buah yang baik. Pohon yang jelek hanya menyerap kebaikan di sekilingnya untuk kemudian digunakan untuk kebutuhan dirinya sendiri dan menolak berbuah.
Gendang ditabuh tarian bersambut. Jika mati harus begini, hidup penuh luka juga tidak berarti. Kekuasaan lepas dari tangan yang menggenggamnya erat. Tuan Harsim merasa diperlalukan tidak adil. Sebagai satu-satu sesepuh yang paling dihormati di kampung ini, ia merasa seakan ditiadakan. Kemudian menyatakan diri sebagai yang bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan, selain, tentunya, untuk keuntungannya sendiri. Sebuah kecurangan yang dipercayainya sebagai cara untuk menegakkan kebenaran. Pak Harsim, Tuan Dunia-Lama bersama tabiat-yang bagi mereka-agung dan sakral itu-tak bisa lagi menunggu terlalu lama. Ia mengajak yang lain untuk bermufakat. Ia ingin segera menuntaskan semuanya. "Perjuangan harus segera mencapai puncak. Kenikmatan secepatnya harus diraih. Gurita dinasti penguasa busuk harus segera ditumbangkan. Revolusi. Titik."
Namun sebaik-baiknya pelita, yang cahayanya menerangi ruang-ruang gelap hati, jika terlalu banyak sumbu yang menyala, minyaknya susut terlalu cepat dan cahayanya pun padam. Tuan Harsim lupa tujuan, mabuk harapan dan khayalan. "Perjuangan meminta pengorbanan dan sebaik-baiknya pengorbanan adalah yang mengorbankan orang lain", begitu pikirnya.
Kecamuk kemudian terjadi. Disana sini ada bangkai-bangkai tak bernama. Tembok Kejujuran dihancurkan. Ruang-ruang hati terisi kebencian. Pohon-pohon enggan berkembang kemudian layu. Burung tidak ada lagi yang mau bernyanyi. Ternak muram tidak ingin berbiak. Baik tuan Harsim atau orang suruhan penguasa hanya tertawa. Bangkai-bangkai itu tidak berarti bagi mereka. Satu-satunya yang mereka pedulikan ialah menjaga agar tetap berkuasa.
"Tapi hatiku tidak sepakat. Aku menyakini ada yang lain yang lebih baik. Namun hatiku pun tidak sekuat baja. Jika masih tidak ada harapan, maka tulikanlah telingaku. Butakanlah dua bola mataku biar tak kulihat ketidakberesan itu terjadi."
Tidak seperti angin yang datang dan berlalu tanpa meninggalkan jejak, kata-kata menghantui hati. Ia melekat berkecamuk di nurani. Tuan Harsim bernarasi untuk membela diri.
Baik Tuan Harsim dan orang suruhan, budak penguasa sama-sama tidak perduli.
Belum lama ini, beberapa saat yang lalu, mungkin seminggu atau beberapa minggu atau berbulan-bulan, bisa juga setahun atau bertahun-tahun ya...
About author: Tinue Laut
Cress arugula peanut tigernut wattle seed kombu parsnip. Lotus root mung bean arugula tigernut horseradish endive yarrow gourd. Radicchio cress avocado garlic quandong collard greens.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Comments: