"Saat kredo yang
sakral menuntut totalitas ke-iya-an kita tanpa memberi celah untuk
dipertanyakan apalagi diragukan dan dipertentangkan, disaat itulah kita telah
mati! Saat itulah akal kita dibunuh, saudaraku! Kita memang tidak boleh
bersandar hanya pada akal tapi bukankah karena akal kita layak disebut manusia?
Jika kita hanya duduk diam, tidak berbuat, terbengang sambil berkedip-kedip
melihat ketidak-beresan terjadi, apa gunanya hidup-bagai-mati macam itu,
saudara? Aku lebih memilih mati sebelum aku hidup." Demikian Tras
mengakhiri pidatonya.
[Tepuk tangan]
Seperti biasa, kalimat-kalimat agitatif Tras mampu memecah-belah
keheningan alam pikiran audien yang hadir. Perkataannya berhasil menghantui dan
menghentakkan orang-orang yang selama ini hanya memilih diam. Bagai arwah yang
bergentayangan mencari tubuh inang untuk dirasuki, "hantu" pikiran
itu membayangi, merangsek masuk ke bagian paling dalam alam bawah sadar
pendengarnya. Dengan kalimat itu, terang benderanglah kini suatu masa yang akan
datang, masa yang suram akibat matinya akal.
Sekarang, mungkin ada baiknya jika kita meninggalkan pagar pembatas
yang sudah lapuk itu, karena...
Tidak ada pohon baik
Yang menghasilkan buah
jelek;
Begitu pula, pohon jelek
tidak akan menghasilkan
buah yang baik.
Masing-masing pohon
dikenali
Dari buah yang
dihasilkannya .
0 Comments: