(Seperti yang diriwayatkan oleh dirinya sendiri)
Pada mulanya, Tras hanyalah pemuda kampung biasa yang kesehariannya
tak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Terlahir dari keluarga yang sederhana
namun memegang teguh falsafah hidup jujur dan suka menolong sesama, tumbuhlah
ia menjadi pemuda yang santun, gecul, pandai bergaul, sederhana, dan jago
berhitung.
Adapun Tras, selain bercakap dan bersenda gurau dengan
teman-temannya, adalah mengembala kambing dan domba kegemerannya setiap hari.
Dari kegemaran inilah, hidupnya berubah 180 derajat. Perubahan membawa
perubahan.
Pada suatu ketika, seekor kambingnya tersesat dari kerumunan.
Alangkah gundah hati Tras. Hatinya yang lembut bak nutrijel itu tak sanggup
menahan pedih jika harus kehilangan seekor kambing kesayangannya. Traspun
mencari ke segala arah dan penjuru. Mencari dan terus mencari. Dalam perjalanan
pencarian tanpa henti dan lelah itu, nampaklah olehnya suatu penglihatan yang
hebat dan mengejutkan : seekor kambing kesayangannya tiba-tiba keluar dari
semak duri bercahaya menyilaukan mata. Traspun terperangah dan menunduk,
seperti bersujud, menutup matanya dari terpaan sinar ajaib itu. Dalam hatinya
"mungkin malaikat tuhan sedang menampakkan diri kepadaku". Kemudian
secara ajaib berserulah kambing itu kepadanya, demikian :
"Tras, Tras! AnakKu. Aku telah memperhatikan dengan sungguh
kesengsaraan umatKu dan Aku telah mendengar seruan mereka. Kesengsaran mereka
ialah karena berIMAN tiada berAKAL dan berAKAL tapi tiada berHATI. Orang-orang
yang mengaku suci dan telah bersiar mengenai dirinya menjadi imam atas kamu
sungguh mereka telah menipu : menjual perkataanKu untuk kesenangan pribadi dan
uang semata. Mereka bergundik dengan kaum fasik untuk mengabur Kebenaran Sejati
sehingga kamu teperdaya. Mereka berkaok-kaok berlaga suci tapi mulutnya penuh
benci dan caci maki, menghujat yang tidak sependapat, menuduh sesat yang tidak
sealiran. Bagi mereka yang sudah terikat
jaring keangkuhan, terkekang dalam api kesombongan, yang merasa hanya kepadanya
tuhan membukakan satu-satunya jalan keselamatan akhirat, akan menjadikan agama
sebagai mesin pendorong kajahatan dan teror. Aku ingin engkau
berbu........."
"Dan siapakah aku ini, maka aku yang harus berbuat sesuatu?
Apakah yang bisa dilakukan oleh tanganku yang kurus dan tubuhku yang tiada
berdaya ini? Menjual kambing-kambingku dan memberikan uangnya kepada mereka
sehingga mereka tiada lagi berucap sampah? Sungguh tidak adil permintaan yang
demikian." Sela Tras penuh keheranan.
"Ha ha ha ha... Bukan demikian, anakKu yang bijak. Aku melihat
kebaikan hatimu yang putih bak salju itu mampu memperbaiki segala kekacauan
yang telah terjadi. Kau, dengan Kejenakaanmu Yang Maha Lucu, sanggup memulihkan
kekacauan menjadi keteraturan. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau.
Ajarkan kejenakaanmu itu kepada semua orang."
"Bolehkah aku menamainya Paluisme, Mbing?" Tanya Tras
kepada Kambing.
"Itulah nama yang tepat,anakKu."
Mendengar itu, berlarilah Tras terbirit-birit meninggalkan domba dan
kambingnya. Ia ketakutan. Badannya gemetar. Bulir-bulir keringat keluar dari
dalam kulitnya. "Mandikan aku! Mandikan aku!" Teriaknya sesampainya
di rumah.
Melihat anaknya yang bagai orang kesurupan itu, Ibu Tras terkasih
dengan sigap dan cekatan memandikan Tras dengan sekali siraman air seember.
Sekejap Tras berhasil menenangkan diri dan menceritakan hal yang baru saja
menimpanya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, anakku. Itulah Amanat Berat
yang harus kau tanggung. Meluculah maka semua akan bahagia."
Demikianlah Tras yang kemudian menjadi Pendiri (Nabi) Paluisme.
Berbahagialah setiap orang yang mendengar perkataannya dan
melakukannya hari lepas hari.
0 Comments: